Tentang Hamil (bagian 2)

Beberapa minggu sebelum saya hamil, saya sering bermimpi macam-macam. Dari mimpi pendarahan hebat, mimpi menggendong bayi, sampai mimpi bertemu dengan tante saya yang sudah tiada. Anehnya, di mimpi itu kami tidak bicara, tapi kami seperti bicara dari dalam hati dan beliau berkata “Ii disuruh dateng, liat-liat Tintin.” (gak tahu siapa yang suruh). Tintin is my nickname in my family. Paginya saya terbangun dan ingat mimpi itu. Saya berdoa, dan berharap semoga mimpi itu bukan sesuatu yang buruk.

Awalnya saya belum mau testpack, karena sudah beberapa bulan testpack terus tapi hasilnya selalu negatif. Jadi saya menunda besok, besok, besok, sampai lewat 1 minggu sejak tanggal seharusnya saya dapat mens. Suami bilang saya harus segera testpack, soalnya dia punya perasaan bahwa saya hamil. Akhirnya saya menuruti, dan benar saja memang hasilnya positif. Kami lega sekali, namun tidak mau terlalu senang dulu, jadi kami menyimpannya sampai besok ketika bertemu dokter. Kami belum cerita dulu ke orangtua, karena ingin memastikan dulu ke dokter.

Kami kembali ke dr.Handi Suryana di RS PIK, saat itu langsung melakukan USG Transvaginal. Terlihat sudah terbentuk kantung janinnya, usianya 5 minggu, dan di usia tersebut memang belum terdengar denyut jantung janin. Jadi dokter memberikan saya vitamin folamil genio dan obat penguat janin, mengingat sejarah gagal saya 2x, dua minggu lagi disuruh cek lagi untuk kontrol.

Selama 2 minggu itu, saya rutin minum vitamin dan obat, suami membelikan banyak sayur dan buah-buahan, membatasi saya dalam beraktivitas agar tidak terlalu capek, kalau bisa malah dikamar saja bedrest. Tapi mana betah ya. Kendali nyapu dan ngepel otomatis diambil alih oleh suami (eh tapi emang biasanya banyakan suami sih yang ngepel, saya nyapu doank. hehe) Pokoknya dalam 2 minggu penantian itu, saya terus berdoa mudah-mudahan nanti ke dokter lagi sudah terdengar denyut jantungnya.

Tiba saatnya kami kembali ke dr.Handi untuk memeriksa kehamilan saya, dan syalala… ketika di USG suara, langsung terdengar suara degupan kencang, berirama konstan, dan cepat. 170 denyutnya dan itu normal untuk janin. Itu adalah suara paling indah yang pernah saya dengar. His heartbeats, suddenly melts my heart. 7 minggu usianya. Kami membawa pulang foto USG dengan perasaan lega dan bahagia. Orangtua kami pun senang mendengarnya, dan kami langsung diberi wejangan yang sangat banyak. Jangan ini, jangan itu, hati-hati karena banyak pantangan dalam trimester pertama ini.

Dalam menjalani kehamilan ini, ada beberapa perubahan dalam diri saya. Morning sickness saya rasakan sedikit, mual sepanjang hari namun tidak sampai muntah-muntah, napsu makan doang yang lebay sampai di bulan awal berat badan saya naik 4kg. Amazing. Sejak mulai hamil, saya rutin tidur di rumah Serpong. Memang belum punya asisten RT, tapi gak apa-apa kami pasti bisa jalani dengan baik. Tidak ada keluhan yang berarti selama trimester pertama. Oh ya, saya lebih mudah berkeringat loh. Padahal biasanya saya sulit berkeringat. Jadi merasa lebih sehat aja gitu. Padahal mah emang bawaan orang hamil katanya panas terus ya :p Dan saya juga lebih mudah lelah, terutama jika lagi beraktivitas di dapur, seringkali saya keringat dingin, merasa pusing dan berkunang-kunang sehingga harus berhenti memotong sayur dan cepat-cepat berbaring di sofa. Berbaringan 10-15 menit membuat badan saya relaks dan dapat beraktivitas kembali. Suami melarang saya berlama-lama di dapur, tapi ya mana mungkin..kita mau makan apa? Masa iya beli terus diluar? Jadi saya ganti dengan aktivitas memasak yang ringkas dan cepat jadi saja, untuk urusan cuci piring suami yang lanjutkan. Ketika siang hari saya di rumah sendirian, saya bisa bekerja dan jika merasa lelah saya baringan dulu, nanti kembali lagi ke meja kerja, dan begitu seterusnya. Pokoknya aktivitas bekerja itu tetap wajib dikerjakan, supaya bayi kita pun merasakan semangat mamanya. Hehehe…

Memasuki trimester kedua, dokter menyarankan untuk Babymoon. Kata beliau, “Kondisi kamu lagi enak-enaknya, kalau mau bepergian naik pesawat liburan masih boleh.” Namun, saya dan suami tidak ingin kemana-mana, dengan alasan lebih baik liburan di rumah saja, mengingat dulu kita 2x gagal setelah sebelumnya bepergian naik pesawat (meskipun tidak terbukti secara medis). Lebih baik nanti tunggu baby nya gedean baru ajak dia jalan-jalan. Haha.. Lagipula, mami saya akan segera menjalani operasi bulan Januari nanti, jadi kami merasa lebih tenang jika berada di Jakarta saja bersama keluarga.

Di trismester kedua ini, saya memang merasa lebih ‘bugar’ dan ‘kuat’, tidak lagi merasa mual, tidak lagi berkunang-kunang, namun yang namanya keringetan, tetap ngucur kayak keran. Hehehe.. Saya mulai ikut suami ke proyek cek kerjaan, ketemu customer, bertemu teman-teman, pokoknya benar-benar dibawa santai dan tidak banyak keluhan. Thank you baby, kamu happy kan ikut pergi kerja 🙂 Tidak lupa, sahabat saya memberi pinjaman belly support untuk membantu menahan baby bump saya agar tidak terbawa arus gravitasi, itu sangat membantu loh, semakin besar perut saya, semakin terasa ‘turun’ kalau gak diberi penyangga alias belly support itu. Thanks Tina..

Memasuki trimester ketiga, saya mulai mencicil membeli perlengkapan bayi, dari baby crib, baju-baju, dan mendekor kamar bayi (furniture by Nivada of course :p). Untuk baju rumah saya mendapat pinjaman dari tante saya yang kebetulan anaknya sudah berumur 2 tahun, jadi bajunya bisa saya pinjam dulu untuk beberapa bulan, lumayan kan daripada beli lagi, belum nanti menyimpannya yang bingung, karena di rumah saya tidak ada gudang.
Namun yang paling saya rasakan adalah saat memasuki usia 8 bulan kehamilan, rasanya jalan kaki dan naik tangga membutuhkan tenaga ekstra, bahkan saya sampai ngos-ngosan. Padahal menurut teori (dan dokterpun bilang hal yang sama), di bulan ini saya harus banyak jalan kaki, ataupun menungging agar posisi kepala baby turun ke jalan lahir. Apalagi dari awal saya inginnya lahiran secara normal.

USG dari bulan ke 7 kepala baby masih diatas, jadi saya menungging lah setiap hari pagi dan malam, namun karena kondisi perut yang sudah membesar, menungging menjadi aktivitas yang cukup melelahkan, hanya 5 menit saya bertahan, padahal bagusnya minimal 15 menit. Haha… dicicil dicicil.. Saya sampai ikut kelas senam hamil, untuk mempelajari teknik pernapasan dan teknik agar badan lebih relaks saat hamil besar.

USG 2 minggu kemudian, dan 2 minggu selanjutnya, kondisinya masih sama. Baby sekarang malah melintang. Posisinya horizontal gitu loh, jadi kalau di USG keliatan tu kepalanya di sebelah kiri, kakinya di kanan. Jadi kayak posisi baringan. Dokter bilang kalau sampai waktunya dia masih dalam posisi seperti itu, maka saya harus lahiran cesar ga bisa normal.

Sekarang usia kandungan saya sudah lebih dari 36 minggu, berat baby pun sudah masuk 3kg. Apakah masih memungkinkan baginya untuk muter dan ngunci di panggul saya sebagai jalan lahirnya? Dokter tidak yakin akan hal itu, tapi orangtua kami selalu bilang ajak ngobrol aja baby nya, minta dia muter, pasti kalau waktunya tiba dia mau muter deh. Setiap hari saya dan suami elus-elus dan ajak ngobrol supaya baby mau muter.

Minggu lalu saya keluar sedikit flek, agak panik ya karena saya tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk lahir. Harus lewatin 37 minggu dulu baru sempurna perkembangan paru-parunya. Saya telepon mami saya, beliau bilang itu tanda-tanda, harus cepat ke RS. Saya langsung telepon suami saya yang saat itu masih jam makan siang di kantor. Dia langsung pulang untuk mengantar saya ke RS, saya sudah menyiapkan tas untuk bersalin dari beberapa minggu sebelumnya, jadi bisa langsung berangkat. Tidak lupa saya telepon ke RS dan bicara dengan bidan di ruangan bersalin, menceritakan kondisi saya. Bidan bilang nanti langsung ke ruangan bersalin aja untuk diperiksa dan CTG.

Sesampainya di RS PIK, saya dan suami langsung ke lantai 3 ruang bersalin. Sepi sekali saat itu, hanya saya pasiennya. Suster langsung memasangkan alat CTG ke perut saya, dan selama 30 menit melihat kondisi kontraksi babynya. Dalam 30 menit itu, kontraksi berlangsung secara konstan 10 menit sekali dengan waktu 1-2 menit setiap kontraksinya. Kondisi ini dilaporkan ke dr.Handi, dan dokter menyarankan agar saya disuntik penguat paru-paru untuk janin, karena usianya belum 37 minggu. Suntikan ini untuk berjaga-jaga, jika memang harus lahir sebelum usia 37 minggu, paru-parunya sudah matang dan kuat, namun jika lahirnya sesuai waktu, maka tidak ada efek sampingnya. Suntikan ini dilakukan 2 kali, besoknya saya harus datang lagi ke RS untuk mendapatkan suntikan kedua. Sore harinya dokter kebetulan ada jadwal praktek di RS PIK, jadi saya sekalian dicek dan konsultasi. Setelah diberi suntikan dan obat agar tidak kontraksi, dokter melakukan USG, dilihat kondisinya sudah membaik, jadi saya boleh pulang. Awalnya tadi bidan sempat menyampaikan bahwa dokter suruh rawat inap saja, karena suntikan akan diberikan 2x, namun saya dan suami menolak karena menurut kami sudah diberi obat harusnya tidak masalah jika pulang, dan besok kami akan datang lagi untuk disuntik. Namun dokter berpesan kalau kontraksi terjadi lagi dan perut kencang terus-terusan, atau ada darah lendir yang keluar harus segera di RS.

Besoknya di jam yang sama saya kembali lagi ke RS PIK untuk disuntik yang kedua, dan di CTG ulang. CTG kali ini hasilnya dalam 30 menit hanya 1x kontraksinya, sehingga masih dalam kondisi yang baik dan aman. Jadi setelah mendapatkan suntikan, saya bisa langsung pulang. Dokter bilang datang kontrol lagi sesuai jadwal saja. Baiklah, dok.

Kalau kata sodara saya, itu bisa saja kontraksi palsu. Bisa jadi iya, tapi berhubung ini anak pertama saya belum familiar apa itu kontraksi palsu, apa itu kontraksi beneran. Jadi selagi bisa dicek lebih baik langsung dicek 🙂

Saya dan suami merasa tenang, mudah-mudahan jika memang sudah waktunya untuk lahir, baby dapat lahir dengan baik dan bahagia. I knew i love you before i met you, baby..

Love,

NeitNeit

Advertisements
Posted in Her Daily News | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Tentang Hamil [bagian 1]

Sejauh ini di blog, saya belum pernah cerita tentang kehamilan saya. Dan sekarang, sudah melewati 7 bulan, bahkan udah mau keluar baby nya baru saya cerita. Kebayang donk sudah berapa lama blog ini tidak terawat. Haha..

Saya dan suami menikah dari September 2012, dan ini adalah kehamilan saya yang ketiga. Saya mengalami 2x keguguran karena janin tidak berkembang. Pertama di Desember 2012, dan yang kedua di Oktober 2013. Selama dua tahun ini, hanya keluarga dan teman dekat saya yang tahu tentang hal ini. Namun kali ini saya mau sharing, untuk berbagi kepada teman-teman yang sedang membaca blog saya, kiranya dapat memberikan semangat dan pengaruh positif untuk selalu percaya, berdoa, dan berusaha untuk mendapatkan keturunan. It worth the wait.

Hamil Pertama
Untuk kehamilan yang pertama, saya dan suami tidak tahu bahwa saya hamil, saat kami honeymoon, sepertinya saya sudah isi, tidak sadar bahwa saat itu saya belum datang mens. Setelah pulang honeymoon baru deh tespack + , lalu cek ke dokter dan dinyatakan saya hamil, sudah mau masuk 5 minggu. Dokter pertama saya adalah dr. Adi di Grha Kedoya. Dokternya baik dan sabar, namun saya tidak puas, karena ketika belum (atau tidak) ada denyut jantung janin, beliau bilang datang lagi minggu depan, datang lagi 2 minggu lagi, dan selalu berulang begitu, sampai usia kehamilan saya harusnya masuk 8 minggu. Saya merasa di-PHP-in sama dokter. Gak terus terang aja gitu kalau memang tidak berkembang. Di minggu ke8 itu saya pergi mencari second opinion, yaitu dr.Robby di RS Family. Gak usah ditanya, ramai sekali antrinya meskipun saya sudah daftar dan datang sesuai jam yang ditentukan, saya tetap harus menunggu 2 jam lamanya. Sabar menunggu. Ketika tiba giliran saya, dokter langsung periksa saya lewat USG atas (di dokter Adi saya selalu USG transvaginal, dengan alasan USG atas tidak/belum kelihatan), hebatnya dr.robby ini, ketika menempelkan alat USG ke perut saya, langsung kelihatan loh kantung janinnya. Memang saya merasakan dr.robby lebih menekan alatnya, kalau dr.Adi hanya seperti ditempelkan saja. Mungkin dr.Adi takut melukai janin kali ya kalau USG nya terlalu ditekan.
Ketika USG, dr.Robby langsung bilang “Sorry to say this, tapi ini sudah dipastikan tidak berkembang. Kamu keguguran. Lihat saja kantung janinnya sudah mulai keriput.” Saya langsung sedih banget ya saat itu, untungnya tidak sampai nangis di ruangan dokter. Suami merangkul saya terus dan mengelus-elus punggung saya, dan dokter pun menyarankan agar dikuret.
Setelah dari RS dan mendapatkan berita sedih itu, saya dan suami mengunjungi Ama dan Engkong (orangtua mami saya) yang kebetulan apartmentnya lumayan dekat dengan RS Family. Saya cerita ke Ama tentang kondisi saya, dan Ama memegang pergelangan tangan saya dan bilang “Iya, ini gak bisa diterusin. Kamu tenang-tenang aja, nanti ada waktunya dia mau keluar sendiri biar dia keluar sendiri. Bukan sengaja dikeluarin.” Itu hari Sabtu, saya inget banget. Malam harinya saya dan suami nonton konser di Aula Simfonia terasa hambar dan konsernya gak memuaskan. Padahal saya yang sedang dilanda kesedihan.

Ternyata yang diomongin Ama benar, hari Rabu nya tengah malam saya dilanda keram perut yang luar biasa sakitnya disertai dengan bleeding (pembalut double pun sudah tembus ke celana tidur saya), ternyata itu yang dinamakan kontraksi. Jam 1 pagi saya ke UGD diantar suami dan orangtua saya, di mobil saya muntah dan keluar darah dari bawah pada saat yang bersamaan. Sampai di RS, saya langsung dibawa ke kamar tindakan dan dijaga oleh para bidan disana. Saya merasa tenang setelah sampai di ruangan itu, dan berselang beberapa menit, Jaringan yang berbentuk gumpalan darah keluar sendiri dari rahim saya. Itu adalah janinnya yang tidak berkembang, namun belum berbentuk. Masih berupa gumpalan. Dokter Adi datang dan saya tetap menjalani kuretase agar lebih yakin bersih di dalam sana. Kami memilih tetap di dr. Adi Grha Kedoya, karena dekat dengan rumah orangtua dan rumah dokternya dekat jadi bisa langsung datang ke RS. Kalau saya ke Family, masih harus menunggu dr.Robby besok jam 7 pagi, jadi demi keamanan diri saya, kami ke Grha Kedoya saja.

Tiga bulan setelah kuretase itu sebenarnya saya sudah boleh hamil lagi, tapi saya dan suami mau santai dulu tidak terburu-buru untuk segera hamil. Kesedihan masih sering saya rasakan, apalagi kalau ada yang iseng (atau kepo) bilang “Tin, lo belom hamil? Gue sama lo marriednya kan deketan?” –> Ini salah satu ‘sahabat’ saya loh yang tega berkata begitu (ketika itu dia sedang hamil anak pertama), dan saya semakin malas curhat tentang kondisi saya. Percuma, toh dia mencap dirinya lebih baik daripada saya. Ada juga omongan “Jangan dijaga-jaga loh, biasanya kalo dijaga malah susah dapatnya.” Yah elus-elus kuping aja deh ya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada saya, mereka hanya melihat dari kacamata mereka, jadi saya pun tidak merasa perlu menjelaskan apa-apa. Cuek saja dan saya hanya bilang “Doain aja deh, itu kan Jodoh.” Syukurnya keluarga besar saya tidak pernah ada yang kepo, karena mereka cukup mengerti keadaan saya.

Hamil Kedua
Kehamilan saya yang kedua, saya dan suami pun kecolongan lagi. Saya tidak tahu sudah mulai hamil, dan kami bepergian ke Bali. Jalan-jalan ceritanya untuk merayakan 1st Wedding anniversary. Setelah pulang dari Bali baru testpack, dan tahu hamil.

Pergi lagi ke dr.Robby, kali ini sudah mulai praktek di Grand Family. Antrinya? Tetep…2,5 jam saja, kawan. Sabar pula kami menunggu. Dan sampai di dalam ruangan, USG lagi..dan dokter langsung bilang, ini tidak berkembang lagi. Duh…ini saya down sedalam-dalamnya. Saya tanya kenapa sih bisa berulang lagi. Apakah karena saya naik pesawat? Dokter hanya bilang, harusnya segera ke dokter untuk disuntik pengencer darah. Karena pernah mengalami keguguran sebelumnya, jadi dia mengindikasikan bahwa darah saya kental sehingga tubuh saya menolak ketika ada ‘yang baru’ hadir di dalam, yaitu janin, jadi ia tidak memperoleh supply oksigen dan makanan. dr.Robby kasih kami opsi untuk minum obat saja atau langsung dikuret. Namun karena antrian di dr.Robby masih panjang, kami jadi merasa terburu-buru, bergitupun dokternya yang sepertinya ingin segera menyudahi sesi konsultasi.

Akhirnya saya dan suami mencari second opinion, yaitu ke dr. Handi Suryana SPOG di RS Royal Taruma Daan Mogot, sepupu suami merekomendasikan dr. Handi Suryana, karena anak pertamanya ditangani oleh dr.Handi dan sangat puas, pun kalau di SMS atau BBM selalu cepat dibalas dan sabar dalam menjelaskan. Saat saya dan suami konsultasi, beliau langsung USG atas, dan bilang bahwa janin saya tidak berkembang. Beliau juga memberikan opsi untuk dikuret atau minum obat untuk meluluhkan janin, dan plus minusnya jika minum obat. Minum obat tidak menjamin rahim bersih, jadi kalau masih belum bersih ujung-ujungnya pun harus dikuret. Kalau dikuret ya langsung dibersihkan. Enaknya dengan dr.Handi, antriannya tidak terlalu ramai, jadi kita bisa bertanya banyak hal, dan dokter pun menjelaskan dengan lebih detail, bahkan di akhir pertemuan beliau selalu bertanya “Ada yang mau ditanyakan lagi?”. Pertanyaan sederhana, namun menyenangkan 🙂

Setelah berdiskusi dengan keluarga saya dan keluarga suami, kami memutuskan untuk dikuret saja. Kami memilih di RS PIK (Pantai Indah Kapuk), dr.Handi juga praktek di sana.. Tindakan hanya berlangsung 15 menit, dan saya dibius selama hampir 45 menit. Udahannya masih terasa pusing karena pengaruh obat anestesi.

Keguguran saya yang kedua ini bisa saya hadapi dengan lebih baik daripada yang pertama, karena saya percaya bahwa jodoh kami belum tiba. Tidak ada salahnya lebih lama menunggu untuk bertemu sesuatu yang terbaik. Itu yang selalu saya ucapkan sebelum tidur, dan saya merasa tenang.

Saya dan suami merasa cocok dengan dr. Handi, karena beliau orangnya sabar dan mau menjelaskan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, jadi sejak saat itu kami memutuskan akan lanjut konsultasi dengan beliau. Dr.Handi memberikan saya dan suami vitamin-vitamin untuk menjaga kondisi badan, seperti vitamin E dan zat besi.

Seperti dr.Robby, Dr.Handi juga menyarankan saya untuk periksa kekentalan darah, nama bekennya adalah ACA test. Bisa dibaca disini. Untuk cek ACA di lab biayanya cukup mahal, diatas 500ribu, dan ada 2 jenis darah ACA yang saya cek, jadi sekitar 1jutaan. Hasil ACA saya bagus, jauh di bawah angka rujukan, jadi dapat dipastikan bahwa penyebab keguguran berulang saya bukanlah karena kekentalan darah. Karena jika memang kasus kekentalan darah yang terjadi, treatment yang harus dilakukan cukup banyak, seperti suntikan pengencer darah setiap beberapa waktu, dan kondisi yang harus selalu dalam pantauan dokter. Dr.Handi bilang, bahwa saya tenang saja, dengan kondisi tubuh saya ini tetap masih bisa hamil dengan alami, hanya memerlukan kesabaran. Kalau ditanya mengapa berulang, dokterpun tidak bisa menjawab karena itu diluar kuasa manusia. Sebenarnya saya tidak puas dengan jawaban itu, tapi di lain sisi saya juga tidak ingin menantang takdir, dan saya tahu betul dokter pun tidak tahu alasannya. Beliau hanya pesan, kalau nanti hamil lagi harus buru-buru ke dokter untuk diperiksa agar lebih terjaga dari awal terbentuk.

Setiap bulan saya kontrol selalu di USG untuk melihat kondisi telur saya, dan dokter memberikan saran kapan berproduksi sama suami, begitu terus selama beberapa bulan. Saya dan suami diperiksa kondisi semuanya bagus. Namun ada 1-2 bulan dimana kerjaan kami untuk kontrol di proyek lumayan banyak, jadi hampir setiap hari bergelung di proyek yang berdebu dan kotor, dari pagi sampai sore. Sampai dokter pun bilang “Kamu lagi capek sekali ya? Saya lihat telur kamu kecil-kecil dan kurang berkualitas bulan ini. Coba kita lihat lagi di bulan depan, ya.” Ihh dokter tau ajah, lagi sibuk cari duit kelarin proyek dok sampe lupa sama kondisi badan. 🙂

3-4 bulan berlalu, saya merasa kondisi badan saya baik, namun kok belum hamil juga. Saya jadi kepikiran terus, apakah ada masalah dalam tubuh saya yang tidak saya ketahui. Saya tanya ke dr.Handi, “Dok, kok saya belum hamil juga ya, padahal udah minum vitamin dan rutin berusaha?” Dokter cuma bilang “Ya harus sabar dong bu.” Ah iya, saya serasa ditampar deh. Harusnya mah saya lebih banyak berdoa kalau mau cepat hamil. Dokter kan hanya membantu saja.

Selain berusaha dari segi medis, saya juga berusaha dari segi spiritual. Atas rujukan saudara, saya dan suami pergi ke sebuah klenteng/rumah sembayang di daerah Bandengan dan berdoa kepada Dewi Kwan Im untuk dapat memiliki keturunan. Pergelangan tangan saya dipegang oleh Tetua, dan beliau bilang kandungan saya ‘dingin’, karena setelah keguguran yang dulu kondisinya belum pulih benar, jadi janin sulit nempel dan terbentuk. Jadi disana pun saya diberikan resep obat tradisional/herbal yang bisa dibuatkan di toko obat tradisional. Tetua bilang, obatnya diminum 3 hari sebelum dan 3 hari sesudah mens untuk menjaga kandungan agar sehat dan kuat. Diminum selama maksimal 3x siklus harusnya saya sudah bisa hamil. Dan kami bersyukur sekali, di bulan ke3, saya testpack lagi dan ternyata saya positif hamil. Berusaha secara Medis, Spiritual, dan Tradisional, semuanya memberikan hasil positif 🙂

“Waiting is sign of true love and trust. Why? Because everyone can say I LOVE YOU but not all can WAIT FOR YOU. – Innah Dellos Angeles

Lanjutan tentang cerita hamil saya, di Bagian II ya 🙂 🙂

Love,

NeitNeit

Posted in Her Daily News | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Super Late Post

Hai!
Sudah terlalu lama blog ini gak diupdate, rasanya keinginan saya untuk menulis ‘mengetik’ menurun sangat drastis beberapa bulan terakhir.
Apa yang ingin saya ceritakan dari Januari sampai Mei ini? Hahaha Banyak! Ba-Nyak!

Let’s start!
Bulan Januari setelah hingar bingar tahun baru, saya dan keluarga kerap kali mengunjungi RSCM. Dengan jadwal yang sudah diberikan oleh team dokter, mami saya menjalani operasi transplantasi organ penting dalam tubuhnya, dan kami sangat bersyukur karena operasi berjalan dengan baik dan lancar, keadaan mamiku sangat baik, dan sehat kembali. We Thank God, thank doctors, thank pendonor, thank famililes…semuanyaa.
Setelah pulang kerumah, mami butuh banyak waktu istirahat, masih harus bedrest, keadaan udara dan ruangan harus steril, serta harus jaga makan, kayak ciapo gitu, dan selama beberapa bulan tidak boleh keluar rumah supaya tidak terkena virus dari udara luar.

Namun ternyata ada saja rintangannya, karena di pertengahan Februari, Jakarta tercinta kembali diguyur hujan lebat (dan lebay) dari malam-pagi berjam-jam non stop hingga setelah berdoa dan memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi, banjir hadir kembali di tengah-tengah kita. ‘Di tengah-tengah kita’ dalam arti yang sebenarnya ya, karena memang banjirnya ini masuk ke rumah. Sungguh…terlalu.

Koko saya yang tinggal di apartment, sudah wanti-wanti dari pagi hari supaya kita ngungsi saja selagi air masih belum terlalu tinggi dan masih dapat dilalui mobil, namun mami bersikeras ingin tetap dirumah. Akhirnya air benar-benar semakin tinggi dan sudah tidak dapat dilalui mobil lagi, kami pun sudah ngungsi ke lantai 2 rumah karena lantai 1 sudah masuk air. Saat itu pun keponakan saya, Ald (3 almost 4yo) lagi nginap dirumah, jadi dia juga tahu apa itu yang namanya banjir. 🙂 Beberapa jam kemudian, koko datang ke rumah dengan bala bantuan sebuah perahu karet yang cukup besar untuk menampung mami, papi, saya, keponakan, dan asisten RT. Koko dan suamiku berjalan kaki ngobok banjir.
Dalam keadaan yang sungguh tidak steril itu, mami akhirnya memakai double/triple masker, jas hujan, kaki dibungkus plastik, dan naik ke perahu dengan cara digendong oleh koko dan suami kanan dan kiri agar kaki tidak sampai menyentuh air banjir. Duduk di perahu, aman sudah. Yeah.
Saatnya saya yang naik perahu…jreng..mereka tidak bisa menggendong saya..hahaha..karena kehamilan ini yang sudah mulai membesar itu memang sulit bagi mereka untuk menggendong diriku. Jadilah saya berpegangan pada pagar pintu rumah, manjat dengan kaki kanan, dan kaki kiri langsung menjejak di atas perahu dengan bantuan papi dan asisten RT. Yeah berhasil.
Setelah itu, meluncurlah kita dengan dorongan tenaga manusia dan arus air banjir, kita keluar dari komplek menuju tempat parkir mobil koko.
Yang lucu mah ini Ald, dia merasa ini sebegai rekreasi, bilang “Kong (manggil papi saya), perahunya kok gak pake dayung. Dipake dong dayungnya.” Dan alhasil papi ketawa dan mengambil dayung yang disamping perahu dan mulai mendayung. Ald seneng banget. Sampai di ujung jalan, ketemu tukang sayur langganan dan dia dengan lantang teriak (padahal kami semua gak ada yang lihat tukang sayur itu karena ketutup gerobaknya), “Pak Kemis, pak kemis, halo pak Kemis..” Dan si Pak Kemis muncul dari balik gerobaknya dan lambai-lambaikan tangannya ke arah kami. Wakakaka liat aja sih kamu, Ald..
Akhirnya selama musim banjir beberapa hari itu, papi mami, saya dan suami, dan asisten ngungsi dirumah Serpong. Disini lebih nyaman karena mami lebih bisa istirahat dan mudah jika ingin kontrol ke RSCM (tidak perlu ngubek banjir toh! biarpun muacett kalo keluar dari tol serpong).

Setelah banjir usai, maka saatnya perayaan Imlek hadir memberikan rejeki kepada kita semua. Hehe.. Acara cuci-cuci rumah sudah kelar. Saatnya bagi-bagi angpao dan mengunjungi rumah keluarga besar. Tradisinya tetap sama dari tahun ke tahun, hanya karena tahun ini mami masih harus banyak berdiam di rumah dan tidak boleh menerima banyak tamu, jadi kami tidak open house seperti tahun-tahun biasanya. Hanya saudara dan beberapa kerabat yang datang. Biarpun begitu, tahun baru Imlek ini benar-benar berkesan dan menyenangkan.

Segini dulu obrolan saya hari ini, postingan berikutnya mau cerita tentang kehamilan saya ah.. Hehe.. Hei Hei, kawan… Mohon doa restunya ya, perkiraan akhir bulan ini baby kami lahir. Semoga semuanya lancar 🙂 Sadhuu!

Posted in Her Daily News | 3 Comments

Happy New Year

Happy New Year buat teman-teman yang merayakannya. Hehehee… Hayoo, ada gak yang gak New Year’an? Ada! Temen gue dari negeri Tiongkok, ketika gue ucapin dia Happy New Year, tapi dia balas Thanks, tapi New Year gue gak sekarang, tapi nanti waktu Chinese New Year alias Sincia.. wakakaaka Iye dahhh. Sejak saat itu, gue paham gak semua orang merayakan New Year (international calendar new year) :p

Tahun baruan kali ini, gue tetap merayakannya bersama keluarga dengan BBQ dan Suki bersama di rumah, dan ditutup dengan acara kembang api. Tapi seperti biasa, gue gak suka kembang api..jadi gue gak ikutan main di luar. Bukan kembang apinya sih, tapi suaranya yang lebay dan menggelegar yang mengganggu banget menurut gue.

Diluar itu semua, hati gue masih miris dipenuhi oleh berita seputar kecelakaan pesawat Air Asia lalu, biarpun gue ga kenal siapapun yang ada di pesawat itu maupun keluarganya tapi gue benar-benar memikirkan perasaan kehilangan mereka. Mungkin ini adalah tahun baru paling sedih yang pernah mereka alami. Semoga semmua makhluk mendapatkan kebahagiaannya.

Dan doa gue di awal tahun ini, Semoga segala sesuatu yang direncanakan dan dilakukan dapat diselesaikan dengan baik. Mendapatkan hasil yang baik, dan berguna bagi tubuh, bagi keluarga, dan bagi orang lain.

Love,

NeitNeit
2015
RSCM Kencana, Jakarta

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Mirror

Mirror is on the wall
I can use it anytime I want
Mirror is in my hand
I will use it anytime I need
Mirror is in my heart
Look inside me
My attitude
What I have done to others
So that I will be able to evaluate myself,
not other people.
What about your mirror?

Posted in In Her Mind | Tagged , | Leave a comment

Love is Blind

When love is blind,
my heart beats so fast
too fast..
my feet walks in harmony
and slowly..

Because love is blind,
i love you before i met you
i love your heartbeat
i love you even more
and i always will

***

Some People hurts by love itself
but they stand still
weak and strong at the same time
but they never falling down

Blindness is not always black
there’s white, a light..
just light
and we all know, everything that end with light is a Good sign, GOD sign.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kuliner Bersama Saya

Siapa yang suka kuliner? Sayaaa!!
Siapa yang suka icip-icip makanan baru? Sayaaa!! *tapi tergantung review orang-orang dulu* hehehe
Siapa yang suka eksperimen bikin-bikin makanan? Sayaaa!! *Tapi yang gampang aja*

Nahh jadi udah tau dong topik postingan gue kali ini tentang apa? Makanaaaaan! hahahha i love it, i love it. Gue suka banget makan, Fact: Kalau gue telat makan, rasa pusing dan lemas langsung melanda. Makanya gue ga boleh telat makan. Hehehehe :p

Pertama-tama mari kita bahas tentang wisata kuliner di Jakarta dan sekitarnya. Dalam 2 bulan terakhir ini ada beberapa restoran yang baru gue coba, sebenarnya mereka buka sudah lama, tapi gue coba makanannya ya akhir-akhir ini aja. Dan yang akan gue review ada 2 resto.
Yang pertama, Koultoura Coffee yang terletak di Taman Ratu, tepatnya di deretan Pizza Hut taman Ratu beda 2-3 bangunan setelahnya kalau dari arah jalan panjang di sebelah kiri, di seberang ruko-ruko yang baru jadi gitu deh (yang kadang kalau restoran ini lagi rame, parkiran ruko tersebut dijadikan parkirannya Koultoura!). Kalau gue lagi nginap di rumah orangtua di Green Ville, sudah dipastikan setiap hari gue akan melewati restoran ini. Kalau dari tampak depan, kalian akan melihat sebuah bangunan dengan kaca-kaca transparan dan aktivitas orang-orang di dalamnya akan tampak dari luar. Jadi lagi sepi atau ramai, dapat terlihat dari seberang jalan. Dengan simbolnya sebuah cangkir dengan tanda petir di atasnya, gue jadi membayangkan si the-boy-who-lived alias dek Harry Potter hehehe…
Sistem pemesanan di restoran ini adalah, kita masuk dan langsung memesan di kasir makanan dan minuman yang akan kita nikmati. Jadi jangan langsung duduk. Kita pesan di kasir dan langsung bayar, jadi sistemnya jadi mirip makan di restoran cepat saji. Untuk minuman, kita tungguin mereka bikin dan kita bawa ke meja sendiri. Baru untuk menu makanannya akan mereka antar ke meja kita. Gue makan ber3 sama suami dan 1 sahabat gue, kami berdiri di meja kasir cukup lamaa karena bingung mau pesan apa. Hampir semua menu kita tanyain ini apa itu apa, isinya apa, posrinya banyak gak dan sebagainya. Untung lagi gak rame jadi mbak kasirnya dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Akhirnya gue pesan Chicken Maryland dan minum Ice chocolate apa gitu namanya lupa. Suami gue pesan Fish and Chips dan minum Ice Tea of the day. Mari kita review rasanya. Untuk Chicken Maryland menurut gue enak, dagingnya lembut, potato wedges nya lumayan, dan saosnya pas gak terlalu asam. Untuk minuman cokelatnya juga enak, di dasar gelas gue menemukan gumpalan cokelat yang bisa gue makan dikit-dikit (atau kurang gue aduk-aduk yah? Lol), tapi itu dark choco sih jadi tergantung orang suka atau kagak, kalau gue lebih suka milk daripada dark sebenernya. Hehehe…
Untuk Fish and Chips nya menurut suami gue rasanya cukup oke, tapi kurang spesial. Mungkin banyak resto yang juga menjual fish and chips. Saos tartarnya menurut gue lumayan enak kok. Kalau untuk Ice Tea of the day nya ya ga usah dibahas lah yaa, pokoknya es teh lah gitu. Heheehehe cuma memang hari itu teh yang dipakai adalah Dilmah English Breakfast.
Nah bagaimana untuk segi harganya? Hmmm maaf nih tapi gue harus jujur kan kalau mereview. Harganya tergolong mahal. Dihitung-hitung kalau dibagi rata, kita makan ber 3 totalnya 300ribuan, dengan masing-masing 1 makanan dan 1 minuman, tanpa pesan menu tambahan lainnya, jadi menurut gue sih mahal dengan porsi main menunya yang gak terlalu banyak kalau 1 orang jatuhnya @100ribuan (makanan+minuman). Tapi ya ini relatif ya, mungkin karena ini cafe jadi mereka juga menjual tempat. Iya, mereka design interiornya mengupayakan agar orang-orang bisa duduk lama sembari ngobrol ataupun hanya duduk untuk kerja atau meeting.
Waktu gue datang ke sana, ada beberapa meja yang isinya orang sedang meeting bawa laptop ngobrol serius, ibu-ibu sekitar 6-8 orang yang duduk sembari minum-minum dan cekikikan, anak kuliahan yang baru pulang kuliah dengan buku-bukunya disamping tempat duduknya. Memang, ini lebih seperti meeting point dan ngopi-ngopi ketimbang restoran untuk makan kenyang. Hehehhe… Karena, porsinya memang gak banyak-banyak amat menurut gue yang hobi makan ini :p Tapi overall, resto ini cukup unik 🙂

Chicken Maryland

Chicken Maryland

Restoran kedua yang gue coba untuk pertama kalinya adalahhhh….Seorae, sebuah restoran Korea yang berada di Flavor Bliss Alam Sutera, jadi kita geser sedikit dari Jakarta yah :p Gue baru makan ini tepat tadi malam. Makan ber5 sama sahabat gue, ber4 ding, plus 1 balita yang makannya juga mulai banyak. Hehehe…
Seorae ini menjual korean BBQ dengan daging yang didatangkan dari Australia. Kami memesan has dalemnya Pork dan beef, tapi gue lupa foto untuk daging-dagingnya. Karena kita lagi gak mau bakar sendiri, jadi minta tolong mbak nya yang panggangin dagingnya untuk kita. Gue lebih suka Porknya, karena dagingnya sangat sangat Juicy, itu adalah special menu nya resto ini. Namanya Galmaegisal (pork) dan Woosamgyeob (beef), nah loh gue bingung deh namanya…kalo gak nyontek slip Bon nya, gue ga bisa spell nya. Hahahaha… Disini kita bisa refill terus side dish nya, kimchi, sayuran, ubi manis, kentangnya, mochi kacangnya (mirip mochi cuma gepeng bentuknya gue ga tau apa namanya). Kalau untuk harganya, daging-dagingnya kami pesan yang 150 gram, yang pork hargnya 84ribuan, yang beef hampir 140ribu. Untuk Japchae (soun), porsinya sedikit tapi enakkk, tapi harganya gak enak…hahaaha…dengan porsi segitu harganya 70ribu menurut gue sih kemahalan, kalau 40ribuan mungkin masih cocok. Untuk bikin member nya gratis, dan kita dapat voucher 20% untuk kedatangan berikutnya, tapi batas waktunya hanya 1 bulan. Total kami makan disitu semalam adalah 498ribu, nyaris 500ribu, tergolong mahal karena 4orang dewasa + 1 balita kira-kira @100ribuan juga per orang, tapi worth it sih jadi menurut gue karena dagingnya enak dan side dish nya banyak juga boleh refill 🙂 hehehe…

Seorae

Seorae

Side Dish

Side Dish

Tagihannye

Tagihannye

Nah, kalo yang satu ini, gak usah ditanya lagi. Abang Bakso langganan keluarga gue, dari gue masih TK (atau bahkan belum lahir), si Abang ini udah keliling di komplek Green Ville, sampai gue segede ini, Abang ini masih juga keliling di Green Ville dan uniknya, mukanya ga banyak berubah! Model rambutnya sama, model topinya sama, kumis nya sama, mukanya gak keliatan tanda-tanda penuaan sedikitpun, gue curiga dia ini masih satu keluarga sama Bibi Lung. Hehehe… Nih ya, bakso uratnya juara! Enak banget dah, trus gak pelit kasih sayur nya. Satu mangkok sekarang harganya 10ribu, kuahnya berasaaa kaldu nya, tapi yaaa gak disangkal sih micinnya pasti banyak, makannya ga boleh sering-sering. :p Kalau mau ketemu Pak Kumis, dia biasanya ngiter di komplek perumahan Green Ville, kalo lagi gak ngiter, berarti dia nongkrong di ruko Green Ville Blok A, cari aja Tukang Bakso pake topi bundar, berkumis, badannya agak kurus, tingginya sedang, dan selalu pakai baju Kemeja yang dimasukan rapi di celana panjangnya. Hahaha detail banget gue.

Bakso Pak Kumis

Bakso Pak Kumis

Sekian dulu postingan gue siang ini, karena Orangtua gue ajak makan soto betawi di Gading Serpong. Selamat makan siang! 🙂

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Goodbye :’)

Mataharimu telah melewati senjanya
Ketika tapakmu tak lagi terlihat
Ketika suaramu kini menjadi kenangan
Ketika tatapanmu tak akan lagi ada

Dentingan pianomu
Hentakan tongkatmu
Ketukan jarimu di atas punggung tanganku
…semuanya mengikutimu pulang ke rumahNya

Goodbye to you my dearest piano teacher, Oma Betty.

Love,
Helen and Heltien

May you always be happy, Oma...

May you always be happy, Oma…

Thank you Oma... You'll always be in our heart.

Thank you Oma… You’ll always be in our heart.

August 20,19.. – August 24th,2014

A song for you…

Posted in Her Daily News, In Her Mind | Tagged , , , , | Leave a comment

Dua Gelas Es Kopi dan Kita

Dua gelas es kopi dan kita
Dinginnya terbaca dari luar gelas

Dua kursi kayu dan kita
Deriknya memenuhi hening yang kita ciptakan

Matahari sore
Membawa kehangatan hati bagi kita
Dinginnya es tidak mampu mengusir kehangatan matahari
Tidak pula mengusik kebersamaan kita

Dua gelas es kopi dan kita
Ah aku lupa,
kamu kan tidak suka kopi
namun kamu tetap menemaniku duduk di kursi kayu

Dua kursi kayu dan kita

***

Buat kamu,
Ada hal-hal yang tidak kamu suka
tapi pada akhirnya kamu tetap melakukannya
dan menemaniku
Disitulah kamu, dan aku, menjadi kita.

Posted in In Her Mind | Tagged , , , , | Leave a comment

[Glee]: You Have More Friends Than You Know

Ada lagu yang ingin gue bagikan, untuk teman-teman gue, untuk siapa saja yang singgah disini. Lagu dari Glee season 4, mendekati episode akhir lupa episode berapa. Hehehe

Here, for u ladies and gentlemen…

“You Have More Friends Than You Know”

We feel, we hear,
your pain, your fear
But we’re here, to say,
who you are, is okay

And you don’t have to go through this
on your own
You’re not alone

* You have more friends than you know
Some who surround you
Some you are destined to meet
You’ll have more love in your life

# Don’t let go, give it time
Take it slow
Those who love you the most, may need more time to grow
It’s gonna be okay (It’s gonna be okay)
You have more friends than you know

Be brave, be strong,
You are loved, you belong

Some day soon (Some day soon),
you will see (You will see)
You’re exactly
Who you’re supposed to be

And you don’t have to go through this on your own
You’re not (You’re not!) alone (You’re not alone, no, no)

(back to * and #)

Be who you are
Learn to forgive

It’s not about who you love,
but how you live (But how you live!)

Ooooh!

You have more friends than you know
Some who surround you
Some you are destined to meet
You’ll have more (More!) love in your life
Don’t let go, give it time (Give it time)
Take it slow (Take it slow)
Those who love you the most, (may need more time to grow)
It’s gonna be okay (It’s gonna be okay)
You have more friends than you know

It’s gonna be okay

Posted in Listen and Enjoy | Tagged , , , | Leave a comment