Tentang Setahun Lalu

25 Mei 2015 Jam 19:00
Sate Babi Mumu, Salsa Food Market, Summarecon Serpong
Aku dan suami bersama sahabat janjian makan malam disini. Sate Mumu adalah salah satu favorit kami berempat. Kami makan dan ngobrol seperti biasa. Perutku sudah besar dan semakin mudah lelah kalau banyak berjalan.
Dan ketika mereka mengajak ngeDessert di Pancious, aku menolak. Karena masih harus berjalan dari Salsa ke dalam mall. Rasanya pengen cepat pulang dan bobo. hehehe…

26 Mei 2016 Jam 01:00 dini hari
Tadi pulang cepat dengan rencana ingin segera naik ke ranjang dan tidur. Tapi apa daya ketika sudah sampai di ranjang ga sedikitpun mata terpejam. Perasaan gelisah padahal sudah ngantuk. Akhirnya aku ke toilet karena ingin buang air kecil.
Baru juga duduk untuk setoran air kecil, tiba-tiba…byar… tanpa bisa ditahan. Aliran darah segar encer tapi agak kental. Seketika aku lihat ke dalam kloset. What?? Now?? Harusnya masih 3 hari lagi (jadwal operasi c-section).
“Beb…darah beb…”
Thank God suami belum tidur saat itu. Dia langsung bangkit dari ranjang. “Kenapa beb?”, sambil terburu-buru ke toilet. “Ini kayaknya pecah ketuban deh, darah ni banyak banget.” Aku panik.
Dia yang menenangkan aku, “Tenang, jangan panik beb…kita ke RS sekarang ya.” Ucapnya sambil ngelap sisa-sisa darah di lantai kamar, lalu membantuku ganti baju (sempet ganti baju, yeah!).
Tas untuk persiapan ke RS sudah kami siapkan 2 minggu sebelumnya, dan sudah ada di dalam mobil. Jadi kapanpun siap berangkat.
Tidak lupa kubawa perlak untuk tatakan duduk di mobil.

Di mobil aku berupaya telepon dokter Handy, tapi ga diangkat (iya harusnya RS yang menghubungi dokter kali ya baru diangkat), ya sudah saya langsung telepon RS mengabari bahwa saya dalam perjalanan mohon ditunggu di depan UGD. Setelah itu aku telepon orangtua dan mertua dirumah untuk mengabari kami otw ke RS.

Masuk mobil suami langsung tancap gas macam pembalap…hahaha bersyukur banget banget banget jam segitu jalanan lengang banget kan. Hanya 20 menit saja dari Gading Serpong ke RS PIK, yang kalau siang hari pasti macet tak terkira di tol nya. Sepanjang perjalanan ke RS, kontraksi sudah tiap 2 menit. Tau dari mana 2 menit? Aku lihat jam di mobil, setiap si menit di angka ganjil dia kontraksi, di angka genap kontraksinya ilang hahaha… Aku dalam hati omitohud omitohud terus, sambil mempraktekan pernapasan yang diajarin pas senam hamil, lumayan membantu loh (karena sibuk ingetin cara napasnya, malah jadi gak fokus ke kontraksinya..hehehe)

Sampai di UGD langsung duduk di kursi roda dan dibawa naik ke ruang bersalin. Diobservasi dulu sama susternya. Ada yang ramah, ada yang jutek. Trus aku ditanya-tanya biodata dan histori kehamilan sama si suster jutek. OHMYGOD gak tau apa ini udah sakit banget nahan kontraksi, susternya nanya banyaaakkk banget ada kali beberapa halaman. Ketika aku lagi kesakitan, suaraku otomatis mengecil, si suster malah ngomong “Suaranya yang keras bu, gak kedengeran”. Reseee..ouchh sakit.. Mau aku sahutin, tapi males banget, ngomong aja susah lagi nahan sakit. Tapi akhirnya aku bilang “duh yang kayak gitu-gitu baca sendiri aja sus di buku kehamilan. sakit nihh.” Baru deh dia nanyanya ga banyak-banyak dan lebih sabar nunggu jawabanku.

Setelah merasa cukup, baru deh susternya telepon dokter. Selama menunggu dokter datang, suster memasang jarum di tangan saya untuk nanti masuk infus atau obat, tapi…again and again and again…katanya pembuluh darah saya terlalu halus, susah cari jalurnya. Hiksss… Urusan kontraksi belum beres, ini si suster makin bikin saya takut masa jarumnya ga bisa masuk. Ga berapa lama dateng suster yang lebih senior, baru dia yang pasangin dan akhirnya berhasil. Sekitar 15 menit dr.Handy akhirnya datang dan USG, katanya ketubannya sudah banyak berkurang, harus operasi sekarang. Oh iya, posisi baby K selama hamil belum pernah turun kepalanya…posisinya malah melintang. Kepala di kiri, kaki di kanan. Jadi untuk amannya dicaesar deh.

Ketika dibawa ke ruang operasi, ternyata jarum yang suster tadi pasangkan ke tanganku, salah juga! Punggung tanganku sudah biru karena pembuluh darahnya pecah, jadi dokter anestesi yang akhirnya memindahkan jarumnya ke posisi yang benar dan dipindahin ke tangan kanan. Haisssh…suster-suster itu, speechless saya… (sampai hampir 2 minggu baru biru lebam nya hilang, itupun setelah dikasih trombopob rutin).

Jam 3 pagi operasi berjalan lancar, aku merasakan setiap gerakan tangan dokter di perutku, sayatan demi sayatan di setiap lembar lapisan kulitku sampai ketemu tubuh mungil baby K. Aku merasakan ‘oprekan’ si dokter ketika berusaha mengeluarkan baby K dari perutku, dan ketika iya keluar, tangisnya pecah memenuhi ruang operasi. Dear baby K, terima kasih udah baik-baik di dalam perut mama, sekarang kita bertemu πŸ™‚ Dokter anak membawanya ke sampingku, dan aku cium baby K. Setelah itu aku tertidur…biarkan dokter/suster menyelesaikan tugasnya merapihkan perutku..sambil terus berdoa dalam hati, semoga aku segera pulih dari bius ini agar bisa melihat baby K.

26 Mei 2016
Selamat ulang tahun, dear baby K. Sekarang kamu udah bukan baby lagi. Sekarang kamu sudah bisa ngoceh-ngoceh, udah bisa marah-marah, udah bisa membedakan mana jeruk baby dan mana jeruk medan, udah bisa jalan merembet, udah bisa turun dari ranjang meskipun harus extra hati-hati, udah bisa nyengir, udah bisa tepuk tangan, udah bisa berishin laci & lemari mama sampai bersihhh ;),udah bisa main tab sama papa, udah bisa manggilin papa di kamar mandi, udah bisa nyetir sama papa, udah bisa samperin mama deketin muka lalu muaaahhh..ciumanmu yang pernuh iler adalah sukacita bagi mama. Dan uda bisa-uda bisa yang lainnya yang ga bisa mama sebutkan satu-satu, tapi selalu ada dalam rasa syukur mama setiap kali melihat kamu.
Love you…

note: Kapan-kapan kita makan sate Mumu ya, Keivel. Karena di situ, kita punya cerita. Hehehe…Β 0 moIMG_0847

4 mo

IMG_0956r

May you always be happy dear son. Love the life that you live. Live the life that you love. Be happy, be grateful, be thankful everyday!

Advertisements
Aside | Posted on by | Tagged , , , , , , , , , | 2 Comments

Mendung

Namanya Mendung
 Dengan redupnya langit dirudung sendu
 Butir-butir hujan ia pandu
 Awan pun tak sanggup lagi memangku

Dialah Hujan
 Dengan riang mengajak langit menari
 Kadang marah, kadang malu, ia pun menanti matahari
 Yang akan menjemput lapisan-lapisan pelangi

Sebut dia Pelangi
 Dengan indahnya mengundang setiap mata berpaling
 Memandu decak kagum penghuni bumi
 Ah..aku ingat
 Dulu kamu bernama Mendung

Memang, tak selamanya Mendung itu kelabu
 Nyatanya, ia kini begitu berwarna, Pelangi namanya.

Love,
 NeitNeit
 May 2016
20160327_115453
Posted in In Her Mind, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Jarak

Sejauh mana matanya memandang
Takkan pernah lebih jauh dari pikirannya

Sejauh mana kakinya melangkah
Takkan pernah lebih jauh dari angannya

Sejauh apa ia mengejarnya
Takkan pernah lebih jauh dari jarak di hatinya

Sejauh apa senyum yang ia berikan
Takkan pernah lebih jauh dari mata yang tak memandangnya

Bukan jarak yang memisahkan mereka
Tapi hati yang kosong kian melebarkan jaraknya

Love,
 NeitNeit
 May 2016
Posted in In Her Mind, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Keivel Miles and Smiles

Haiiii! Baru sempat ngeblog setelah…entah berapa bulan lamanya. πŸ™‚ Maafkan aku, blog sayang. Jadi kali ini saya kan membahas tentang perjalanan kami dan baby K ke London bulan lalu.

Membawa anak kecil (baca: dibawah 1 tahun) jalan-jalan / berpergian naik pesawat, menurut saya memiliki tantangan tersendiri. Tantangan terbesarnya bukan di tempat tujuan, melainkan diperjalanannya atau lebih tepatnya, di penerbangannya. Jauh sih memang perjalanannya, total 18jam. 12jam Jakarta-Istanbul + 2jam trasnit di Istanbul + 4jam Istanbul-London.

Kami menggunakan maskapai Turkish Airlines untuk penerbangan ini, karena pas lagi cari tiket, harga Turkish Airlines yang paling oke dan review nya bagus-bagus, terutama mereka mendapat Best Europe Airlines 2015, jadi tanpa ragu kami beli tiketnya πŸ™‚

Selama saya disana dan setelah pulang, teman-teman dan saudara menanyakan, gimana bawa anak jalan-jalan repot ga? Hihihi… *pertanyaan wajib* Dan jawaban saya,”Repot sih, tapi seru!”. Beneran memang seru, karena ada tantangannya. Ini ga membuat saya kapok bepergian, hanya…untuk bepergian dengan jarak tempuh yang jauh dan lama, nanti dulu deh hahahahaha…

Ini penjelasan saya tentang tantangan kami selama di pesawat dari Jakarta – Istanbul – London :

  1. Jam makan si baby; Berhubung terjadi perbedaan jam di Jakarta dengan di udara…ca elah, maka saya harus rajin-rajin lihat jam. Apakah baby K sudah waktunya makan atau belum. Dan ketika dia harus makan, ternyata di pesawat masih gelap. Penerangan di pesawat belum dinyalakan sehingga saya menyalakan sendiri lampu di tempat duduk. Dan untungnya, baby K lahap makannya. Jadi tantangan ini mudah dilewati. Makanan apa ya? Kalau untuk sarapan, saya bawa cereal baby yang cukup dicampur air panas maka akan jadi bubur cereal. Untuk buah, saya beli buah botolan yang merk H*inz atau G*rber. Sebenarnya di pesawat sudah disediakan baby meal, tapi lebih amannya bawa sendiri deh karena kita tidak tahu baby meal yang disediakan cocok atau tidak untuk baby kita kan. Untuk makan malam, sebelum naik pesawat sudah saya suapin (masak dari rumah), dan untuk makan siang pas sudah sampai di tujuan, jadi masak dan makan di rumah koko ipar. Asiknya, mereka punya anak yang seumuran dengan baby K jadi bisa sekalian masak untuk 2 anak πŸ™‚
  2. Jam tidur baby K; ini nih tantangan terbesar kami di dalam pesawat. Baby K ga bisa tidur, padahal sudah ngantuk. Terpaksa saya gendong terus semalaman. Dan gendongnya ga boleh sambil duduk. Kalau duduk, nangis. Kalau udah nangis susah diem dan bisa mengganggu penumpang lain. Jadi saya jalan-jalan ke dapur, ke tempat pramugari, dan ke Toilet. Tertidur sebentar, bangun lagi. Begitu terus sepanjang malam. Baru benar-benar bisa tidur ketika sudah hampir pagi. Dan saya? Hanya bisa tidur ayam. Takut kalau saya tertidur beneran, gendongan saya jadi kendor. *mukakusutkayakkeset* Tapi kejadian susah tidur hanya terjadi di penerbangan pergi. Penerbangan pulangnya jauh lebih baik, biarpun tetap ada drama susah tidur.
  3. Bosan. Perjalanan yang memakan waktu lama tentunya akan membuat bosan, bukan hanya kita orang dewasa, anak-anak tentu lebih mudah bosan. Bedanya kita orang dewasa sudah bisa menahan kebosanan dan bisa terhibur dengan mendengarkan musik, membaca buku, atau nonton acara yang ada di layar kursi penumpang. Nah kalau anak masih bayi? Saya sudah membawa alat-alat perangnya untuk melawan rasa bosan baby K. Saya bawa biskuit kesukaan, bawa mainan yang ada krincingannya, mainan yang ada lagu, dan bola-bolaan. Tapi sebanyak apapun mainannya ia toh akan tetap bosan juga. Akhirnya balik lagi ke awal…kasih nenen di toilet (kenapa di toilet? di point bawah ada penjelasannya). Hahaha… Kalau udah mati gaya, baby K ya nangis, ya marah-marah. Kadang ada pramugari cantik yang ajak main dan godain baby K, dan ia terhibur *baby K suka wanita cantik* :p. Tapi hanya sebentar, setelah itu… ya drama lagi deh.
  4. Duduk paling depan tidak menjamin segalanya menjadi lebih mudah. Karena nyatanya, Basinet yang sudah saya order dari awal pemesanan tiket tidak bisa dipakai oleh Baby K. Maximum beban basinet itu adalah 11kg. Berat badan baby K sudah 10kg saat itu. Dan baby K ternyata lebih panjang daripada basinet itu sendiri. Jadi ia tidak bisa berbaring disitu. Akhirnya basinet itu kita gunakan untuk meletakkan tas, selimut, makanan, botol minum, dan mainan. Maksudnya, tujuan utama yaitu untuk baby K baringan disitu jadi tidak dimanfaatkan karena memang tidak bisa. Jadi saya rasa duduk di barisan tengah (bukan paling depan), mungkin akan lebih baik. Karena lebih mudah untuk melipat meja makan (yang kalau di paling depan saya akui mejanya kecil sekali jadi agak sulit untuk meletakkan nampan makanan, dimana kalau kesenggol sedikit pasti jatuh apalagi ada anak bayi yang lagi gak bisa diem hehehe). Lalu kalau di barisan tengah, jarak ke layar tv lebih dekat jadi baby K bisa sedikit terhibur dengan pencet-pencet layar yang ada.
  5. Menyusui seharusnya merupakan hal yang mudah dan ringkas, tapi ketika situasinya adalah duduk di tengah (gak kebagian posisi dekat jendela) dan sebaris kanan kiri, dan belakang SEMUA nya adalah laki-laki, dan baby K tidak mau ditutup pakai apron menyusui, maka menyusui menjadi hal yang agak menyulitkan saat itu. Jadi mau tidak mau saya harus bolak balik ke toilet dan menyusui disana. Kadang baby K bisa tertidur saat minum susu, kadang malah senang karena di toilet terang lampunya. Untung toiletnya bersih dan wangi, pramugarinya rajin bersihin dan kasih pengharum, jadi aktivitas menyusui di toilet tidak terlalu buruk.

Ya itu tadi tantangan saya dan suami selama di pesawat. Tapi ketika sudah sampai di tempat tujuan, di London maupun di Jakarta, semua letih, bosan dan stres terbayar sudah. Baby K juga langsung ketawa-ketawa tidak ada lagi tangisan dan rengekan. Sepertinya ia juga mengerti dan senang kita semua sudah tiba. Apalagi bertemu keluarga, rasanya luar biasa plonggg πŸ™‚

Ah, rasanya mau kesana lagi, tapi tunggu baby K sudah besar nanti ya…

Terima kasih Tikong sudah melindungi perjalanan keluarga kami πŸ™‚ Semoga Koko & keluarga di sana juga senantiasa Kau lindungi agar segalanya lancar dan terasa mudah jika dijalani bersama. Sadhu…

β€œIf you want to go Fast, go Alone. If you want to go Far, go Together.”

Love,

NeitNeit

20160327_115519

Baby K’s First Rainbow!

20160326_120438

Our happy faces πŸ™‚

IMG_0502

Jalan-jalan siang di Hyde Park

 

 

Posted in Her Daily News | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Hello, Baby Keivel!

Mungkin ini terdengar klise, tapi memang nyata…tidak ada yang bisa menggantikan dan menggambarkan perasaanku saat ini. Sejak beberapa bulan belakangan, kehidupanku berubah menjadi sangat luar biasa (sangat sangat diluar dari biasanya hehehe)Β  dimana…sosok mungil ini hadir di tengah-tengah kami, iya Keivel, kamu.

Perasaan jatuh cinta lagi dan lagi denganmu, perasaan haru ketika melihat wajahmu yang tenang, perasaan galau ketika kamu menangis tanpa kumengerti alasannya, perasaan bahagia ketika melihatmu tertidur pulas dipelukanku usai menyusuimu, perasaan ingin cepat-cepat pulang dan ingin menciummu ketika pergi keluar rumah tanpa kamu, perasaan yang mengakui bahwa suara paling indah adalah suara ocehanmu yang mulai sering terdengar (setelah suara detak jantungmu), perasaan penasaran apa yang ada dalam benakmu ketika kamu tersenyum menatapku.

Lembur setiap malam untukmu? Bukan masalah, itu anugerah bisa memberimu nutrisi.
Badan pegal-pegal usai menggendongmu? Bukan keluhan, tapi syukur atas pertumbuhanmu.
Rambut dijambak dan ditarik? Bukan sakit, tapi bahagia kamu sudah lancar menggerakan tangan dan jari-jarimu.
Tak bisa kemana-mana karena kamu akan menangis? Bukan halangan, tapi syukur karena kamu merasa aman dan tenang bersamaku.

Ketika rasa syukur tidak akan pernah habis, bukan hanya dalam kata-kata tapi juga dalam setiap tarikan napasku. Terima kasih Tuhan, alam semesta, karma dan jodoh yang mempertemukan kami denganmu di kehidupan ini.

Raih Keberhasilan (Irgie) dengan Kebijaksanaan (Keivel) yang kamu miliki.
Dear, Irgie Keivel Pramana (Selasa, 26 Mei 2015)

Love,
Papa Mama

IRGIE KEIVEL

IRGIE KEIVEL

Posted in In Her Mind | Tagged , , | 3 Comments

The Corner of Sweet and Fresh Dessert: “Sweet Corner”

Di kehamilan saya yang semakin besar ini, membuat saya harus mengontrol dengan baik asupan yang manis-manis dan tepung-tepungan ke tubuh saya. Seperti gula, roti, mie, dan kawan-kawannya. Dokter terus mewanti-wanti saya kalau baby nya ga mau terlalu ‘gede’ di perut, harus dijaga makannya. Apalagi pada awalnya saya ingin lahiran secara normal. Kalau baby nya kegedean, susah atuh nanti keluarnya. Hehe..

Tapi sekarang sepertinya keadaan berubah, jika posisi baby nya masih melintang juga,Β  saya harus melahirkan dengan c-section. Jika memang harus begitu ya tidak apa-apa, yang penting semoga semuanya lancar dan sehat-sehat.

Yang masih jadi kontroversi, adalah minum Es atau minuman dingin. Katanya bisa bikin baby di perut jadi besar juga. Yang saya tahu selama ini, yang bahaya itu bukan Es nya, tapi Manisnya/kandungan gulanya itu loh yang bikin gede. Soalnya, saya mempraktekan ini di rumah. Hhihihi… Saya keringetan tiada henti setiap hari. Lebay, tapi nyata. Sampai saya harus membawa handuk kecil kemana-mana supaya bisa lap keringat, duh udah mirip sopir bajaj rasanya kalo gantungin handuk di leher. Jadi, sebagai upaya untuk menyelamatkan diri saya dari rasa panas yang berlebih, saya dirumah selalu minum air Es, air dingin polos, tanpa sirup tanpa gula, pokoknya air es tok. Lumayan membantu kok, setidaknya berasa lebih adem. Dan setiap saya kontrol ke dokter, tidak ada kenaikan berat pada bayi maupun saya yang signifikan. Jadi saya pikir, memang yang berpengaruh itu adalah gula yang terdapat dalam minumannya, bukan dingin/es nya.

Ngomong-ngomong soal makanan manis dan seger-seger, udah pernah datang ke Sweet Corner? Sweet Corner ini adalah sebuah Dessert House asal Hongkong. Sekarang sudah buka loh di Alam Sutera, tepatnya di Ruko Jalur Sutra Kav. 20A Alam Sutra, Tangerang (pas di sebelah Subur Furniture). Sweet Corner ini grand opening bulan Oktober 2014 lalu.

Grand Opening Sweet Corner

Grand Opening Sweet Corner

Here we are

Here we are

Foto di atas by: Marvyn Hendrata

Saya sering berkunjung kesana untuk sekedar bertemu teman, bertemu customer, maupun untuk melepaskan dahaga. Hanya saja sejak hamil, saya gak bisa pesan 1 porsi sendirian. Harus bagi sama suami. Karena…ya itu, takut baby nya nanti jadi ndut kalo kebanyakan makan manis. Hehehehe…

Menu-menu dessert yang disajikan semuanya fresh dibuat sendiri oleh ownernya, tanpa bahan pengawet, dan dari buah-buahan segar. Jadi, bisa dibilang ini makanan sehat dan segar. Untuk minuman, masih ada yang pakai buah longan kaleng. Selebihnya, buah fresh yang dipakai.

Menu andalannya adalah yang ada unsur mango nya, jadi kalau musim mangga tiba, kalian harus coba menu mango nya. Ada Mango Ximi, Mango Maruko Special, Mango Grass Jelly with Coconut Soup, Mango Fishing Eye, dan masih banyak lagi upss saya gak inget. Banyak soalnya πŸ™‚

Ada Mango nya!

Ada Mango nya!

Sweet Corner's Menu

Sweet Corner’s Menu

Signature Series

Signature Series

Kedua foto di atas diambil dari : sini

Selain menu-menu mango tadi, ada juga menu segar lainnya yang gak kalah hits…yaitu ada Snowice choice, Signature Series (yang banyak diminati adalah SG04 yang terdiri dari bubble, grass jelly, 3 macam ubi, ice cream, puding, dan Ovomochi), Redbean (yang bisa disajikan hangat maupun dingin), Waffle, dan Pancake (ada rasa durian dan mangga). Ovomochi juga merupakan makanan yang dinantikan setiap pengunjung di Sweet Corner. Setiap harinya mereka memproduksi mochi ini dan selalu sold out!

Jika kalian ingin merayakan ulang tahun kecil-kecilan di Sweet Corner juga bisa loh, mereka memiliki kapasitas yang cukup besar di lantai 2. Interior di dalam nya sangat sejuk dipandang, cozy, dengan tema shabby chic dan juga ada mural art painting serta quotes yang lucu-lucu, membuat kita yang duduk di sana ingin berlama-lama santai dan mengambil foto selfie hahaha…

Dan berhubung lokasi Sweet Corner dekat dengan kampus, maka tak heran jika banyak mahasiswa yang nongkrong di sana untuk sekedar kongkow dengan teman maupun bikin tugas. Karena ya itu, tempatnya memang nyaman untuk duduk lama. DenganΒ  harga yang terjangkau dan program stamp card, membuat kita ingin kembali dan kembali lagi.

Eh lagi review begini saya jadi ga sabar nih untuk kesana lagi dan menikmati dessert favorite saya, Mango Ximi, Snow Ice with glutinous rice & durian ice cream, juga Signature series nya. Banyak ya favorite saya :p Tunggu baby nya lahir dulu deh ya… πŸ™‚

MIcheltien with Tina & Sander

Hello!

Facebook : Sweet Corner ID
Twitter : @sweetcorner-id
Instagram : @sweetcorner_id

Sweet Love,

NeitNeit

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Etika Itu Logika

Kejujuran adalah kunci utama terciptanya sebuah kepercayaan jangka panjang.
Anda ingin dipercaya? Jadilah orang jujur dan berkompeten.
Orang pintar banyak ditemui, namun orang jujur semakin sulit dijumpai di jaman sekarang ini. Apalagi di dunia pekerjaan.

Berbicara A di depan kita, namun bertindak B di belakang kita. Berwajah manis di depan kita, namun menjulurkan lidahnya di belakang kita. Ada ya orang seperti itu? Ya, ada!

Sekali topengnya terbuka, dia masih meliuk-liuk mencari celah berusaha memungut topeng kacanya yang pecah di tanah. Masih mencari cara dan alasan agar dirinya bisa ‘dipercaya’ lagi, bahkan menjanjikan memberi bukti-bukti keterlibatan orang lain. Oh..untuk apa lagi ya? Basi.

Lain dia, lain pula yang satunya. Bersikap lurus, tatapan dingin, berusaha terlihat garang dengan menunjukkan gigi taringnya. Tapi, apakah macan ompong memiliki taring?

Ada orang yang selalu berkeluh kesah terhadap pekerjaannya, mencari celah untuk bertindak curang, namun setiap bulannya tetap menerima gaji dari tempatnya bekerja. Bukankah ia mengharamkan gajinya sendiri? dia tidak mensyukuri kehidupan bersama keluarganya selama ini. Sungguh disayangkan ketika awalnya dia dipercaya karena dianggap berkompeten, ternyata dirinya jatuh dalam kesombongan yang pada akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Lain halnya jika orang itu tidak mengerti Etika, dikasih tahu, mengerti, dan memperbaiki diri. Akhirnya paham etika dalam bekerja. Itu sebabnya mengapa saat kuliah dulu ada yang namanya mata kuliah “Etika Profesi”. Gunanya ya itu dia, agar kita mengetahui etika-etika dalam bekerja dan profesi yang digeluti. Jangan sampai keluar dari jalur etika dan merugikan orang lain maupun diri sendiri.
Tidak sulit kok belajar etika, karena semuanya tetap kembali ke logika. Jadi sebetulnya tidak perlu orang yang berpendidikan tinggi untuk mengerti Etika.

Salam Damai,

NeitNeit

Posted in In Her Mind | Tagged , , , | Leave a comment

Tentang Hamil (bagian 2)

Beberapa minggu sebelum saya hamil, saya sering bermimpi macam-macam. Dari mimpi pendarahan hebat, mimpi menggendong bayi, sampai mimpi bertemu dengan tante saya yang sudah tiada. Anehnya, di mimpi itu kami tidak bicara, tapi kami seperti bicara dari dalam hati dan beliau berkata “Ii disuruh dateng, liat-liat Tintin.” (gak tahu siapa yang suruh). Tintin is my nickname in my family. Paginya saya terbangun dan ingat mimpi itu. Saya berdoa, dan berharap semoga mimpi itu bukan sesuatu yang buruk.

Awalnya saya belum mau testpack, karena sudah beberapa bulan testpack terus tapi hasilnya selalu negatif. Jadi saya menunda besok, besok, besok, sampai lewat 1 minggu sejak tanggal seharusnya saya dapat mens. Suami bilang saya harus segera testpack, soalnya dia punya perasaan bahwa saya hamil. Akhirnya saya menuruti, dan benar saja memang hasilnya positif. Kami lega sekali, namun tidak mau terlalu senang dulu, jadi kami menyimpannya sampai besok ketika bertemu dokter. Kami belum cerita dulu ke orangtua, karena ingin memastikan dulu ke dokter.

Kami kembali ke dr.Handi Suryana di RS PIK, saat itu langsung melakukan USG Transvaginal. Terlihat sudah terbentuk kantung janinnya, usianya 5 minggu, dan di usia tersebut memang belum terdengar denyut jantung janin. Jadi dokter memberikan saya vitamin folamil genio dan obat penguat janin, mengingat sejarah gagal saya 2x, dua minggu lagi disuruh cek lagi untuk kontrol.

Selama 2 minggu itu, saya rutin minum vitamin dan obat, suami membelikan banyak sayur dan buah-buahan, membatasi saya dalam beraktivitas agar tidak terlalu capek, kalau bisa malah dikamar saja bedrest. Tapi mana betah ya. Kendali nyapu dan ngepel otomatis diambil alih oleh suami (eh tapi emang biasanya banyakan suami sih yang ngepel, saya nyapu doank. hehe) Pokoknya dalam 2 minggu penantian itu, saya terus berdoa mudah-mudahan nanti ke dokter lagi sudah terdengar denyut jantungnya.

Tiba saatnya kami kembali ke dr.Handi untuk memeriksa kehamilan saya, dan syalala… ketika di USG suara, langsung terdengar suara degupan kencang, berirama konstan, dan cepat. 170 denyutnya dan itu normal untuk janin. Itu adalah suara paling indah yang pernah saya dengar. His heartbeats, suddenly melts my heart. 7 minggu usianya. Kami membawa pulang foto USG dengan perasaan lega dan bahagia. Orangtua kami pun senang mendengarnya, dan kami langsung diberi wejangan yang sangat banyak. Jangan ini, jangan itu, hati-hati karena banyak pantangan dalam trimester pertama ini.

Dalam menjalani kehamilan ini, ada beberapa perubahan dalam diri saya. Morning sickness saya rasakan sedikit, mual sepanjang hari namun tidak sampai muntah-muntah, napsu makan doang yang lebay sampai di bulan awal berat badan saya naik 4kg. Amazing. Sejak mulai hamil, saya rutin tidur di rumah Serpong. Memang belum punya asisten RT, tapi gak apa-apa kami pasti bisa jalani dengan baik. Tidak ada keluhan yang berarti selama trimester pertama. Oh ya, saya lebih mudah berkeringat loh. Padahal biasanya saya sulit berkeringat. Jadi merasa lebih sehat aja gitu. Padahal mah emang bawaan orang hamil katanya panas terus ya :p Dan saya juga lebih mudah lelah, terutama jika lagi beraktivitas di dapur, seringkali saya keringat dingin, merasa pusing dan berkunang-kunang sehingga harus berhenti memotong sayur dan cepat-cepat berbaring di sofa. Berbaringan 10-15 menit membuat badan saya relaks dan dapat beraktivitas kembali. Suami melarang saya berlama-lama di dapur, tapi ya mana mungkin..kita mau makan apa? Masa iya beli terus diluar? Jadi saya ganti dengan aktivitas memasak yang ringkas dan cepat jadi saja, untuk urusan cuci piring suami yang lanjutkan. Ketika siang hari saya di rumah sendirian, saya bisa bekerja dan jika merasa lelah saya baringan dulu, nanti kembali lagi ke meja kerja, dan begitu seterusnya. Pokoknya aktivitas bekerja itu tetap wajib dikerjakan, supaya bayi kita pun merasakan semangat mamanya. Hehehe…

Memasuki trimester kedua, dokter menyarankan untuk Babymoon. Kata beliau, “Kondisi kamu lagi enak-enaknya, kalau mau bepergian naik pesawat liburan masih boleh.” Namun, saya dan suami tidak ingin kemana-mana, dengan alasan lebih baik liburan di rumah saja, mengingat dulu kita 2x gagal setelah sebelumnya bepergian naik pesawat (meskipun tidak terbukti secara medis). Lebih baik nanti tunggu baby nya gedean baru ajak dia jalan-jalan. Haha.. Lagipula, mami saya akan segera menjalani operasi bulan Januari nanti, jadi kami merasa lebih tenang jika berada di Jakarta saja bersama keluarga.

Di trismester kedua ini, saya memang merasa lebih ‘bugar’ dan ‘kuat’, tidak lagi merasa mual, tidak lagi berkunang-kunang, namun yang namanya keringetan, tetap ngucur kayak keran. Hehehe.. Saya mulai ikut suami ke proyek cek kerjaan, ketemu customer, bertemu teman-teman, pokoknya benar-benar dibawa santai dan tidak banyak keluhan. Thank you baby, kamu happy kan ikut pergi kerja πŸ™‚ Tidak lupa, sahabat saya memberi pinjaman belly support untuk membantu menahan baby bump saya agar tidak terbawa arus gravitasi, itu sangat membantu loh, semakin besar perut saya, semakin terasa ‘turun’ kalau gak diberi penyangga alias belly support itu. Thanks Tina..

Memasuki trimester ketiga, saya mulai mencicil membeli perlengkapan bayi, dari baby crib, baju-baju, dan mendekor kamar bayi (furniture by Nivada of course :p). Untuk baju rumah saya mendapat pinjaman dari tante saya yang kebetulan anaknya sudah berumur 2 tahun, jadi bajunya bisa saya pinjam dulu untuk beberapa bulan, lumayan kan daripada beli lagi, belum nanti menyimpannya yang bingung, karena di rumah saya tidak ada gudang.
Namun yang paling saya rasakan adalah saat memasuki usia 8 bulan kehamilan, rasanya jalan kaki dan naik tangga membutuhkan tenaga ekstra, bahkan saya sampai ngos-ngosan. Padahal menurut teori (dan dokterpun bilang hal yang sama), di bulan ini saya harus banyak jalan kaki, ataupun menungging agar posisi kepala baby turun ke jalan lahir. Apalagi dari awal saya inginnya lahiran secara normal.

USG dari bulan ke 7 kepala baby masih diatas, jadi saya menungging lah setiap hari pagi dan malam, namun karena kondisi perut yang sudah membesar, menungging menjadi aktivitas yang cukup melelahkan, hanya 5 menit saya bertahan, padahal bagusnya minimal 15 menit. Haha… dicicil dicicil.. Saya sampai ikut kelas senam hamil, untuk mempelajari teknik pernapasan dan teknik agar badan lebih relaks saat hamil besar.

USG 2 minggu kemudian, dan 2 minggu selanjutnya, kondisinya masih sama. Baby sekarang malah melintang. Posisinya horizontal gitu loh, jadi kalau di USG keliatan tu kepalanya di sebelah kiri, kakinya di kanan. Jadi kayak posisi baringan. Dokter bilang kalau sampai waktunya dia masih dalam posisi seperti itu, maka saya harus lahiran cesar ga bisa normal.

Sekarang usia kandungan saya sudah lebih dari 36 minggu, berat baby pun sudah masuk 3kg. Apakah masih memungkinkan baginya untuk muter dan ngunci di panggul saya sebagai jalan lahirnya? Dokter tidak yakin akan hal itu, tapi orangtua kami selalu bilang ajak ngobrol aja baby nya, minta dia muter, pasti kalau waktunya tiba dia mau muter deh. Setiap hari saya dan suami elus-elus dan ajak ngobrol supaya baby mau muter.

Minggu lalu saya keluar sedikit flek, agak panik ya karena saya tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk lahir. Harus lewatin 37 minggu dulu baru sempurna perkembangan paru-parunya. Saya telepon mami saya, beliau bilang itu tanda-tanda, harus cepat ke RS. Saya langsung telepon suami saya yang saat itu masih jam makan siang di kantor. Dia langsung pulang untuk mengantar saya ke RS, saya sudah menyiapkan tas untuk bersalin dari beberapa minggu sebelumnya, jadi bisa langsung berangkat. Tidak lupa saya telepon ke RS dan bicara dengan bidan di ruangan bersalin, menceritakan kondisi saya. Bidan bilang nanti langsung ke ruangan bersalin aja untuk diperiksa dan CTG.

Sesampainya di RS PIK, saya dan suami langsung ke lantai 3 ruang bersalin. Sepi sekali saat itu, hanya saya pasiennya. Suster langsung memasangkan alat CTG ke perut saya, dan selama 30 menit melihat kondisi kontraksi babynya. Dalam 30 menit itu, kontraksi berlangsung secara konstan 10 menit sekali dengan waktu 1-2 menit setiap kontraksinya. Kondisi ini dilaporkan ke dr.Handi, dan dokter menyarankan agar saya disuntik penguat paru-paru untuk janin, karena usianya belum 37 minggu. Suntikan ini untuk berjaga-jaga, jika memang harus lahir sebelum usia 37 minggu, paru-parunya sudah matang dan kuat, namun jika lahirnya sesuai waktu, maka tidak ada efek sampingnya. Suntikan ini dilakukan 2 kali, besoknya saya harus datang lagi ke RS untuk mendapatkan suntikan kedua. Sore harinya dokter kebetulan ada jadwal praktek di RS PIK, jadi saya sekalian dicek dan konsultasi. Setelah diberi suntikan dan obat agar tidak kontraksi, dokter melakukan USG, dilihat kondisinya sudah membaik, jadi saya boleh pulang. Awalnya tadi bidan sempat menyampaikan bahwa dokter suruh rawat inap saja, karena suntikan akan diberikan 2x, namun saya dan suami menolak karena menurut kami sudah diberi obat harusnya tidak masalah jika pulang, dan besok kami akan datang lagi untuk disuntik. Namun dokter berpesan kalau kontraksi terjadi lagi dan perut kencang terus-terusan, atau ada darah lendir yang keluar harus segera di RS.

Besoknya di jam yang sama saya kembali lagi ke RS PIK untuk disuntik yang kedua, dan di CTG ulang. CTG kali ini hasilnya dalam 30 menit hanya 1x kontraksinya, sehingga masih dalam kondisi yang baik dan aman. Jadi setelah mendapatkan suntikan, saya bisa langsung pulang. Dokter bilang datang kontrol lagi sesuai jadwal saja. Baiklah, dok.

Kalau kata sodara saya, itu bisa saja kontraksi palsu. Bisa jadi iya, tapi berhubung ini anak pertama saya belum familiar apa itu kontraksi palsu, apa itu kontraksi beneran. Jadi selagi bisa dicek lebih baik langsung dicek πŸ™‚

Saya dan suami merasa tenang, mudah-mudahan jika memang sudah waktunya untuk lahir, baby dapat lahir dengan baik dan bahagia. I knew i love you before i met you, baby..

Love,

NeitNeit

Posted in Her Daily News | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Tentang Hamil [bagian 1]

Sejauh ini di blog, saya belum pernah cerita tentang kehamilan saya. Dan sekarang, sudah melewati 7 bulan, bahkan udah mau keluar baby nya baru saya cerita. Kebayang donk sudah berapa lama blog ini tidak terawat. Haha..

Saya dan suami menikah dari September 2012, dan ini adalah kehamilan saya yang ketiga. Saya mengalami 2x keguguran karena janin tidak berkembang. Pertama di Desember 2012, dan yang kedua di Oktober 2013. Selama dua tahun ini, hanya keluarga dan teman dekat saya yang tahu tentang hal ini. Namun kali ini saya mau sharing, untuk berbagi kepada teman-teman yang sedang membaca blog saya, kiranya dapat memberikan semangat dan pengaruh positif untuk selalu percaya, berdoa, dan berusaha untuk mendapatkan keturunan. It worth the wait.

Hamil Pertama
Untuk kehamilan yang pertama, saya dan suami tidak tahu bahwa saya hamil, saat kami honeymoon, sepertinya saya sudah isi, tidak sadar bahwa saat itu saya belum datang mens. Setelah pulang honeymoon baru deh tespack + , lalu cek ke dokter dan dinyatakan saya hamil, sudah mau masuk 5 minggu. Dokter pertama saya adalah dr. Adi di Grha Kedoya. Dokternya baik dan sabar, namun saya tidak puas, karena ketika belum (atau tidak) ada denyut jantung janin, beliau bilang datang lagi minggu depan, datang lagi 2 minggu lagi, dan selalu berulang begitu, sampai usia kehamilan saya harusnya masuk 8 minggu. Saya merasa di-PHP-in sama dokter. Gak terus terang aja gitu kalau memang tidak berkembang. Di minggu ke8 itu saya pergi mencari second opinion, yaitu dr.Robby di RS Family. Gak usah ditanya, ramai sekali antrinya meskipun saya sudah daftar dan datang sesuai jam yang ditentukan, saya tetap harus menunggu 2 jam lamanya. Sabar menunggu. Ketika tiba giliran saya, dokter langsung periksa saya lewat USG atas (di dokter Adi saya selalu USG transvaginal, dengan alasan USG atas tidak/belum kelihatan), hebatnya dr.robby ini, ketika menempelkan alat USG ke perut saya, langsung kelihatan loh kantung janinnya. Memang saya merasakan dr.robby lebih menekan alatnya, kalau dr.Adi hanya seperti ditempelkan saja. Mungkin dr.Adi takut melukai janin kali ya kalau USG nya terlalu ditekan.
Ketika USG, dr.Robby langsung bilang “Sorry to say this, tapi ini sudah dipastikan tidak berkembang. Kamu keguguran. Lihat saja kantung janinnya sudah mulai keriput.” Saya langsung sedih banget ya saat itu, untungnya tidak sampai nangis di ruangan dokter. Suami merangkul saya terus dan mengelus-elus punggung saya, dan dokter pun menyarankan agar dikuret.
Setelah dari RS dan mendapatkan berita sedih itu, saya dan suami mengunjungi Ama dan Engkong (orangtua mami saya) yang kebetulan apartmentnya lumayan dekat dengan RS Family. Saya cerita ke Ama tentang kondisi saya, dan Ama memegang pergelangan tangan saya dan bilang “Iya, ini gak bisa diterusin. Kamu tenang-tenang aja, nanti ada waktunya dia mau keluar sendiri biar dia keluar sendiri. Bukan sengaja dikeluarin.” Itu hari Sabtu, saya inget banget. Malam harinya saya dan suami nonton konser di Aula Simfonia terasa hambar dan konsernya gak memuaskan. Padahal saya yang sedang dilanda kesedihan.

Ternyata yang diomongin Ama benar, hari Rabu nya tengah malam saya dilanda keram perut yang luar biasa sakitnya disertai dengan bleeding (pembalut double pun sudah tembus ke celana tidur saya), ternyata itu yang dinamakan kontraksi. Jam 1 pagi saya ke UGD diantar suami dan orangtua saya, di mobil saya muntah dan keluar darah dari bawah pada saat yang bersamaan. Sampai di RS, saya langsung dibawa ke kamar tindakan dan dijaga oleh para bidan disana. Saya merasa tenang setelah sampai di ruangan itu, dan berselang beberapa menit, Jaringan yang berbentuk gumpalan darah keluar sendiri dari rahim saya. Itu adalah janinnya yang tidak berkembang, namun belum berbentuk. Masih berupa gumpalan. Dokter Adi datang dan saya tetap menjalani kuretase agar lebih yakin bersih di dalam sana. Kami memilih tetap di dr. Adi Grha Kedoya, karena dekat dengan rumah orangtua dan rumah dokternya dekat jadi bisa langsung datang ke RS. Kalau saya ke Family, masih harus menunggu dr.Robby besok jam 7 pagi, jadi demi keamanan diri saya, kami ke Grha Kedoya saja.

Tiga bulan setelah kuretase itu sebenarnya saya sudah boleh hamil lagi, tapi saya dan suami mau santai dulu tidak terburu-buru untuk segera hamil. Kesedihan masih sering saya rasakan, apalagi kalau ada yang iseng (atau kepo) bilang “Tin, lo belom hamil? Gue sama lo marriednya kan deketan?” –> Ini salah satu ‘sahabat’ saya loh yang tega berkata begitu (ketika itu dia sedang hamil anak pertama), dan saya semakin malas curhat tentang kondisi saya. Percuma, toh dia mencap dirinya lebih baik daripada saya. Ada juga omongan “Jangan dijaga-jaga loh, biasanya kalo dijaga malah susah dapatnya.” Yah elus-elus kuping aja deh ya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada saya, mereka hanya melihat dari kacamata mereka, jadi saya pun tidak merasa perlu menjelaskan apa-apa. Cuek saja dan saya hanya bilang “Doain aja deh, itu kan Jodoh.” Syukurnya keluarga besar saya tidak pernah ada yang kepo, karena mereka cukup mengerti keadaan saya.

Hamil Kedua
Kehamilan saya yang kedua, saya dan suami pun kecolongan lagi. Saya tidak tahu sudah mulai hamil, dan kami bepergian ke Bali. Jalan-jalan ceritanya untuk merayakan 1st Wedding anniversary. Setelah pulang dari Bali baru testpack, dan tahu hamil.

Pergi lagi ke dr.Robby, kali ini sudah mulai praktek di Grand Family. Antrinya? Tetep…2,5 jam saja, kawan. Sabar pula kami menunggu. Dan sampai di dalam ruangan, USG lagi..dan dokter langsung bilang, ini tidak berkembang lagi. Duh…ini saya down sedalam-dalamnya. Saya tanya kenapa sih bisa berulang lagi. Apakah karena saya naik pesawat? Dokter hanya bilang, harusnya segera ke dokter untuk disuntik pengencer darah. Karena pernah mengalami keguguran sebelumnya, jadi dia mengindikasikan bahwa darah saya kental sehingga tubuh saya menolak ketika ada ‘yang baru’ hadir di dalam, yaitu janin, jadi ia tidak memperoleh supply oksigen dan makanan. dr.Robby kasih kami opsi untuk minum obat saja atau langsung dikuret. Namun karena antrian di dr.Robby masih panjang, kami jadi merasa terburu-buru, bergitupun dokternya yang sepertinya ingin segera menyudahi sesi konsultasi.

Akhirnya saya dan suami mencari second opinion, yaitu ke dr. Handi Suryana SPOG di RS Royal Taruma Daan Mogot, sepupu suami merekomendasikan dr. Handi Suryana, karena anak pertamanya ditangani oleh dr.Handi dan sangat puas, pun kalau di SMS atau BBM selalu cepat dibalas dan sabar dalam menjelaskan. Saat saya dan suami konsultasi, beliau langsung USG atas, dan bilang bahwa janin saya tidak berkembang. Beliau juga memberikan opsi untuk dikuret atau minum obat untuk meluluhkan janin, dan plus minusnya jika minum obat. Minum obat tidak menjamin rahim bersih, jadi kalau masih belum bersih ujung-ujungnya pun harus dikuret. Kalau dikuret ya langsung dibersihkan. Enaknya dengan dr.Handi, antriannya tidak terlalu ramai, jadi kita bisa bertanya banyak hal, dan dokter pun menjelaskan dengan lebih detail, bahkan di akhir pertemuan beliau selalu bertanya “Ada yang mau ditanyakan lagi?”. Pertanyaan sederhana, namun menyenangkan πŸ™‚

Setelah berdiskusi dengan keluarga saya dan keluarga suami, kami memutuskan untuk dikuret saja. Kami memilih di RS PIK (Pantai Indah Kapuk), dr.Handi juga praktek di sana.. Tindakan hanya berlangsung 15 menit, dan saya dibius selama hampir 45 menit. Udahannya masih terasa pusing karena pengaruh obat anestesi.

Keguguran saya yang kedua ini bisa saya hadapi dengan lebih baik daripada yang pertama, karena saya percaya bahwa jodoh kami belum tiba. Tidak ada salahnya lebih lama menunggu untuk bertemu sesuatu yang terbaik. Itu yang selalu saya ucapkan sebelum tidur, dan saya merasa tenang.

Saya dan suami merasa cocok dengan dr. Handi, karena beliau orangnya sabar dan mau menjelaskan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti, jadi sejak saat itu kami memutuskan akan lanjut konsultasi dengan beliau. Dr.Handi memberikan saya dan suami vitamin-vitamin untuk menjaga kondisi badan, seperti vitamin E dan zat besi.

Seperti dr.Robby, Dr.Handi juga menyarankan saya untuk periksa kekentalan darah, nama bekennya adalah ACA test. Bisa dibaca disini. Untuk cek ACA di lab biayanya cukup mahal, diatas 500ribu, dan ada 2 jenis darah ACA yang saya cek, jadi sekitar 1jutaan. Hasil ACA saya bagus, jauh di bawah angka rujukan, jadi dapat dipastikan bahwa penyebab keguguran berulang saya bukanlah karena kekentalan darah. Karena jika memang kasus kekentalan darah yang terjadi, treatment yang harus dilakukan cukup banyak, seperti suntikan pengencer darah setiap beberapa waktu, dan kondisi yang harus selalu dalam pantauan dokter. Dr.Handi bilang, bahwa saya tenang saja, dengan kondisi tubuh saya ini tetap masih bisa hamil dengan alami, hanya memerlukan kesabaran. Kalau ditanya mengapa berulang, dokterpun tidak bisa menjawab karena itu diluar kuasa manusia. Sebenarnya saya tidak puas dengan jawaban itu, tapi di lain sisi saya juga tidak ingin menantang takdir, dan saya tahu betul dokter pun tidak tahu alasannya. Beliau hanya pesan, kalau nanti hamil lagi harus buru-buru ke dokter untuk diperiksa agar lebih terjaga dari awal terbentuk.

Setiap bulan saya kontrol selalu di USG untuk melihat kondisi telur saya, dan dokter memberikan saran kapan berproduksi sama suami, begitu terus selama beberapa bulan. Saya dan suami diperiksa kondisi semuanya bagus. Namun ada 1-2 bulan dimana kerjaan kami untuk kontrol di proyek lumayan banyak, jadi hampir setiap hari bergelung di proyek yang berdebu dan kotor, dari pagi sampai sore. Sampai dokter pun bilang “Kamu lagi capek sekali ya? Saya lihat telur kamu kecil-kecil dan kurang berkualitas bulan ini. Coba kita lihat lagi di bulan depan, ya.” Ihh dokter tau ajah, lagi sibuk cari duit kelarin proyek dok sampe lupa sama kondisi badan. πŸ™‚

3-4 bulan berlalu, saya merasa kondisi badan saya baik, namun kok belum hamil juga. Saya jadi kepikiran terus, apakah ada masalah dalam tubuh saya yang tidak saya ketahui. Saya tanya ke dr.Handi, “Dok, kok saya belum hamil juga ya, padahal udah minum vitamin dan rutin berusaha?” Dokter cuma bilang “Ya harus sabar dong bu.” Ah iya, saya serasa ditampar deh. Harusnya mah saya lebih banyak berdoa kalau mau cepat hamil. Dokter kan hanya membantu saja.

Selain berusaha dari segi medis, saya juga berusaha dari segi spiritual. Atas rujukan saudara, saya dan suami pergi ke sebuah klenteng/rumah sembayang di daerah Bandengan dan berdoa kepada Dewi Kwan Im untuk dapat memiliki keturunan. Pergelangan tangan saya dipegang oleh Tetua, dan beliau bilang kandungan saya ‘dingin’, karena setelah keguguran yang dulu kondisinya belum pulih benar, jadi janin sulit nempel dan terbentuk. Jadi disana pun saya diberikan resep obat tradisional/herbal yang bisa dibuatkan di toko obat tradisional. Tetua bilang, obatnya diminum 3 hari sebelum dan 3 hari sesudah mens untuk menjaga kandungan agar sehat dan kuat. Diminum selama maksimal 3x siklus harusnya saya sudah bisa hamil. Dan kami bersyukur sekali, di bulan ke3, saya testpack lagi dan ternyata saya positif hamil. Berusaha secara Medis, Spiritual, dan Tradisional, semuanya memberikan hasil positif πŸ™‚

“Waiting is sign of true love and trust. Why? Because everyone can say I LOVE YOU but not all can WAIT FOR YOU. – Innah Dellos Angeles

Lanjutan tentang cerita hamil saya, di Bagian II ya πŸ™‚ πŸ™‚

Love,

NeitNeit

Posted in Her Daily News | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Super Late Post

Hai!
Sudah terlalu lama blog ini gak diupdate, rasanya keinginan saya untuk menulis ‘mengetik’ menurun sangat drastis beberapa bulan terakhir.
Apa yang ingin saya ceritakan dari Januari sampai Mei ini? Hahaha Banyak! Ba-Nyak!

Let’s start!
Bulan Januari setelah hingar bingar tahun baru, saya dan keluarga kerap kali mengunjungi RSCM. Dengan jadwal yang sudah diberikan oleh team dokter, mami saya menjalani operasi transplantasi organ penting dalam tubuhnya, dan kami sangat bersyukur karena operasi berjalan dengan baik dan lancar, keadaan mamiku sangat baik, dan sehat kembali. We Thank God, thank doctors, thank pendonor, thank famililes…semuanyaa.
Setelah pulang kerumah, mami butuh banyak waktu istirahat, masih harus bedrest, keadaan udara dan ruangan harus steril, serta harus jaga makan, kayak ciapo gitu, dan selama beberapa bulan tidak boleh keluar rumah supaya tidak terkena virus dari udara luar.

Namun ternyata ada saja rintangannya, karena di pertengahan Februari, Jakarta tercinta kembali diguyur hujan lebat (dan lebay) dari malam-pagi berjam-jam non stop hingga setelah berdoa dan memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi, banjir hadir kembali di tengah-tengah kita. ‘Di tengah-tengah kita’ dalam arti yang sebenarnya ya, karena memang banjirnya ini masuk ke rumah. Sungguh…terlalu.

Koko saya yang tinggal di apartment, sudah wanti-wanti dari pagi hari supaya kita ngungsi saja selagi air masih belum terlalu tinggi dan masih dapat dilalui mobil, namun mami bersikeras ingin tetap dirumah. Akhirnya air benar-benar semakin tinggi dan sudah tidak dapat dilalui mobil lagi, kami pun sudah ngungsi ke lantai 2 rumah karena lantai 1 sudah masuk air. Saat itu pun keponakan saya, Ald (3 almost 4yo) lagi nginap dirumah, jadi dia juga tahu apa itu yang namanya banjir. πŸ™‚ Beberapa jam kemudian, koko datang ke rumah dengan bala bantuan sebuah perahu karet yang cukup besar untuk menampung mami, papi, saya, keponakan, dan asisten RT. Koko dan suamiku berjalan kaki ngobok banjir.
Dalam keadaan yang sungguh tidak steril itu, mami akhirnya memakai double/triple masker, jas hujan, kaki dibungkus plastik, dan naik ke perahu dengan cara digendong oleh koko dan suami kanan dan kiri agar kaki tidak sampai menyentuh air banjir. Duduk di perahu, aman sudah. Yeah.
Saatnya saya yang naik perahu…jreng..mereka tidak bisa menggendong saya..hahaha..karena kehamilan ini yang sudah mulai membesar itu memang sulit bagi mereka untuk menggendong diriku. Jadilah saya berpegangan pada pagar pintu rumah, manjat dengan kaki kanan, dan kaki kiri langsung menjejak di atas perahu dengan bantuan papi dan asisten RT. Yeah berhasil.
Setelah itu, meluncurlah kita dengan dorongan tenaga manusia dan arus air banjir, kita keluar dari komplek menuju tempat parkir mobil koko.
Yang lucu mah ini Ald, dia merasa ini sebegai rekreasi, bilang “Kong (manggil papi saya), perahunya kok gak pake dayung. Dipake dong dayungnya.” Dan alhasil papi ketawa dan mengambil dayung yang disamping perahu dan mulai mendayung. Ald seneng banget. Sampai di ujung jalan, ketemu tukang sayur langganan dan dia dengan lantang teriak (padahal kami semua gak ada yang lihat tukang sayur itu karena ketutup gerobaknya), “Pak Kemis, pak kemis, halo pak Kemis..” Dan si Pak Kemis muncul dari balik gerobaknya dan lambai-lambaikan tangannya ke arah kami. Wakakaka liat aja sih kamu, Ald..
Akhirnya selama musim banjir beberapa hari itu, papi mami, saya dan suami, dan asisten ngungsi dirumah Serpong. Disini lebih nyaman karena mami lebih bisa istirahat dan mudah jika ingin kontrol ke RSCM (tidak perlu ngubek banjir toh! biarpun muacett kalo keluar dari tol serpong).

Setelah banjir usai, maka saatnya perayaan Imlek hadir memberikan rejeki kepada kita semua. Hehe.. Acara cuci-cuci rumah sudah kelar. Saatnya bagi-bagi angpao dan mengunjungi rumah keluarga besar. Tradisinya tetap sama dari tahun ke tahun, hanya karena tahun ini mami masih harus banyak berdiam di rumah dan tidak boleh menerima banyak tamu, jadi kami tidak open house seperti tahun-tahun biasanya. Hanya saudara dan beberapa kerabat yang datang. Biarpun begitu, tahun baru Imlek ini benar-benar berkesan dan menyenangkan.

Segini dulu obrolan saya hari ini, postingan berikutnya mau cerita tentang kehamilan saya ah.. Hehe.. Hei Hei, kawan… Mohon doa restunya ya, perkiraan akhir bulan ini baby kami lahir. Semoga semuanya lancar πŸ™‚ Sadhuu!

Posted in Her Daily News | 3 Comments